Apakah Mom pernah membeli pakaian bekas (preloved)? Belakangan, tren jual beli pakaian bekas (thrift shop) tengah banyak diminati, terutama oleh kalangan anak muda. Tidak harus memiliki toko offline, bisnis thrift shop tetap bisa dijalani dengan memanfaatkan akun media sosial sebagai sarana promosi.

Usaha thrift shop jadi salah satu bisnis yang layak dicoba sebagai peluang usaha yang cocok untuk ibu rumah tangga. Lagipula siapa yang tidak tergiur pada bisnis modal kecil dengan omset yang lumayan? Yuk simak cara memulai bisnis thrift shop.

Thrift shop itu apa?

Berasal dari dua kata yaitu thrift yang artinya hemat dan shop yang berarti belanja, thrift shop adalah jenis bisnis berupa jual beli produk fashion bekas. Umumnya yang diperjualbelikan bukan pakaian biasa, melainkan produk fashion import bekas tapi bermerk, yang harganya mahal jika kondisinya baru.

Barang-barang yang dijual sebenarnya tidak spesifik pakaian saja, tapi juga tas, sepatu, dan aksesori lainnya.

Keuntungan bisnis baju bekas: Modal kecil

Untuk memulai usaha thrift shop, Mom perlu mengeluarkan modal yang bisa dibilang kecil. Ini karena biasanya baju-baju thrift shop tidak dijual satuan, melainkan karungan. Satu karung besar dihargai 1 juta rupiah, bisa berisi 50-100 pakaian acak dengan kondisi yang tentu tidak semuanya sempurna, biasanya ada beberapa helai yang cacat.

Produk thrift shop itu apa saja?

Bukan cuma terbatas pada pakaian, berbagai fashion item lain seperti sepatu dan tas juga merupakan barang thrift shop.

1. Pakaian

Sebagai salah satu kebutuhan primer, pakaian pasti jadi komoditi yang akan selalu dicari orang-orang. Ada banyak jenis pakaian bekas yang bisa dijual, seperti kemeja floral, hoodie, sweater, celana jeans, celana bahan, dan sebagainya. Kalau pintar berburu, Mom bisa saja menemukan baju bekas branded yang masih layak jual seperti dari brand Uniqlo, H&M, Supreme, dan lain-lain.

2. Sepatu

Sepatu bekas branded yang kondisinya masih bagus, sangat bisa dijual kembali sebagai produk thrift store. Apalagi jika sepatu itu tergolong limited edition, atau punya history tertentu, misalnya karena pernah dipakai orang terkenal. Ini akan jadi poin penting untuk memikat konsumen.

3. Tas

Produk lain yang bisa dijual dalam usaha thrift shop ialah tas. Umumnya yang menggemari item ini adalah kaum wanita. Tas bekas branded yang bisa dijual misalnya dari Louis Vuitton, Gucci, Chanel dan lain-lain.

Cara memulai thrift shop #1: Menjual satu produk spesifik

Dengan semakin banyaknya orang yang berbisnis thrift shop, ada baiknya jika Mom menentukan terlebih dulu produk fashion jenis apa yang akan dijual secara spesifik. Misalnya, hoodie, celana, sweater, dan lain-lain.

Memfokuskan produk pada 1 model akan jadi identitas/ciri khas yang akan membedakan store milik Mom dengan store lainnya. Di samping itu, menonjolkan satu produk yang spesifik juga akan membuat store menjadi rujukan konsumen ketika mereka ingin mencari produk dengan model tertentu.

Cara memulai thrift shop #2: Tentukan asal produk

Sekarang, Mom harus menentukan dari mana akan mengambil barang yang akan dijual (kulakan). Carilah tempat jual baju preloved yang kualitasnya masih bagus. Mom bisa pergi ke pasar untuk mencari store yang khusus menjual berbagai fashion item bekas yang masih berkualitas. Selain itu pertimbangkan juga harganya. Cari toko yang menjual dengan harga masih terjangkau sehingga ketika nanti Mom menjualnya, harganya tidak terlampau mahal.

Cara memulai thrift shop #3: Perhatikan kebersihannya

Salah satu faktor penting apabila memutuskan untuk berbisnis pakaian bekas ialah kehigienisan produk. Sebelum dijual, pastikan baju bekas sudah dicuci bersih, diberi wewangian, bila perlu disetrika. Sebaiknya, rendamlah terlebih dahulu dalam air panas untuk menghilangkan bakteri dan kuman di dalamnya.

Apabila tidak mampu membersihkan baju sendiri, Mom boleh melaundrynya. Meski barang bekas, tapi cobalah untuk menyulap dan mengemasnya layaknya pakaian baru. Ini juga berguna untuk membangun kepercayaan konsumen.

Cara memulai bisnis thrift shop #4: Tentukan siapa sasarannya

Tak ada salahnya untuk melakukan riset kecil-kecilan, sebenarnya kalangan seperti apa yang jadi sasaran bisnis? Siapa yang kira-kira tertarik membeli produk itu? Biasanya mereka mencari produk lewat saluran apa, sih?

Ini akan membantu Mom untuk menyeleksi tipe produk sekaligus menentukan strategi marketing seperti apa yang paling tepat untuk menjaring konsumen dengan kriteria seperti itu. Dari hasil riset mini itu, Mom juga jadi tahu marketplace apa yang paling cocok untuk memasarkan produk.

Meski tampak mudah dan menjanjikan keuntungan yang menggiurkan, Mom harus telaten dalam menjalani usaha thrift store. Selain itu, diperlukan kecermatan ketika memilah-milah produk mana yang masih layak jual. Dari segi harga jual juga mesti jadi perhatian. Jangan sampai produk preloved ini harganya terlampau tinggi sampai menyamai harga ketika konsumen membeli item dengan kondisi baru. Semoga berhasil.